Motivasi / Motivasi Diri / Akuntansi Kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap saja asset dari akuntansi kehidupan adalah akhirat dan kewajibannya adalah kehidupan dunia. Kenapa tidak seimbang? mari kita kutib salah satu hadits mengenai eksistensi kita saat di dunia (carilah kehidupan duniamu seakan kau hidup abadi, dan carilah kehidupan akhiratmu seakan kau mati besok). Hadits ini menandakan bahwa adanya ketidak seimbangan antara kehidupan kita di dunia ini dan nanti di akhirat karena, kehidupan abadi yang sesungguhnya adalah akhirat, jika diumpamakan hidup kita di dunia ini seperti kita singgah sebentar di persimpangan jalan. Sedang kehidupan kita di akhirat akan abadi selamanya, artinya aktivitas kita untuk mencari dunia kita umpamakan bahwa kita akan hidup selamanya, dengan begitu kita tidak berlomba-lomba untuk mencari dunia yang semu ini, berbeda ketika kita mencari kehidupan akhirat kita, maka kita umpamakan bahwa kita akan mati besok, dengan begitu kita kan merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk dibuang-buang dalam melakukan aktivitas tidak penting. Itulah mengapa diharuskan menabung sebanyak- banyaknya agar kita mempunyai asset yang cukup untuk bekal kita di akhirat kelak.

Jika dihitung banyak sekali waktu kita terbuang untuk bersantai dan melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak perlu untuk kita lakukan. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwa “jika dihitung jam tidur manusia dengan umur 60 tahun dan rotasi jam tidur 8 jam sehari maka selama kita hidup 60 tahun telah 20 tahun kita terlelap dalam tidur” untuk membuktikan itu marilah kita hitung. Jika 8 jam sehari kita tidur maka dalam setahun didapat angka 8×360= 2.880 jam setahun, jika diubah dalam hitungan hari maka di dapat 2.880/24 = 120 hari dalam setahun. Dalam rentang waktu 60 tahun maka 120×60 =7.200 hari, dalam waktu 1 tahun 360 hari maka akan di dapat angka 7.200/360= 20 tahun kita tertidur. Hampir setengah dari sisa umur kita di dunia hanya kita gunakan untuk tidur belum lagi aktivitas bermain kita dan lain-lainnya, maka akan semakin banyak waktu kita buang untuk bersantai.

Bandingkan dengan ibadah yang kita lakukan. Kita shalat 5 kali sehari misal dalam sekali shalat kita butuh waktu 5 menit maka jika dikalikan 5x 5= 25 menit sehari. Dalam satu tahun 360 hari dihasilkan angka 25 x 360= 9.000 menit, mari kita ubah ke jam, 1 jam sama dengan 60 menit didapat angka 9.000/60 = 150 jam setahun. jika kita ubah ke hari 24 jam dalam sehari di dapat angka 150/24 = 6 hari 25 jam dalam setahun rentang waktu 60 tahun rata-rata umur manusia akan tampak angka 6.25 x 60 = 375 hari, itu berarti kita hanya melakukan ibadah dengan umur kita 60 tahun hanya 1 tahun 15 hari kita luangkan waktu untuk ibadah.

Terlihat perbandingan yang jauh sekali antara aktivitas ibadah kita dengan aktivitas tidur yaitu 20 tahun untuk tidur, dan 1 tahun 15 hari untuk beribadah, seperti yang telah disinggung di atas bahwa kehidupan dunia diumpakan kewajiban dengan membuang waktu hampir setengah sisa umur kita, sedang kehidupan akhirat adalah asset yang kita hasilkan hanya 1 tahun 15 hari. Jika dalam akuntansi, asset yang kita punya harus lebih besar dari pada kewajiban yang kita punya jika kita menginginkan laba, setelah kita melakukan perhitungan seperti diatas maka bisa dikatakan bahwa kita termasuk orang yang rugi besar. Orang bijak dan orang cerdas adalah orang yang selalu menabung dengan ibadah di dunia untuk pesangonnya nanti di akhirat.

Sedikit sekali dari kita yang menyadari bahwa waktu sangat berharga. Padahal dalam Al-qur’an telah disinggung masalah waktu dalam surat Al-Asr surat ke 103 dari 114 surat dalam Al-qur’an. Ayat 1: demi masa, 2: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian besar, 3: kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran.

Sangat masuk akal bila dalam surat ini menyatakan bahwa manusia mengalami kerugian yang sangat besar jika kita hubungkan dengan perhitungan waktu di atas, namun tidak semua orang yang hidup di dunia mengalami kerugian, ayat selanjutnya memberikan pengecualian terhadap orang yang rugi yaitu orang yang sholeh dan beriman serta memberikan nasehat kepada orang lain. Nasehat menasehati merupakan hak bagi muslim terhadap muslim lainnya, ini bertujuan agar kita saling mengingatkan bila ada dalam diri kita yang salah.

Sudah sewajarnya kita menyadari bahwa ada ketidakseimbangan antara asset dan kewajiban kita, telah jelas bahwa kita termasuk orang yang rugi bila waktu hanya dihabiskan untuk bermain dan aktivitas-aktivitas yang tidak perlu lainnya. Semoga dengan adanya artikel ini kita bisa melakukan kewajiban dengan sesungguh-sungguhnya niat untuk beribadah pada Allah SWT, agar kitatidak termasuk orang-orang yang dalam kategori rugi. Amin.

Gambar dari: http://int.search.myway.com/search/AJimage.jhtml?searchfor=gambar+matematika

Foto Profil dari Afifatur Rohmah
Data Diri Nama saya Afifatur Rohmah lahir di Bangkalan, tanggal 07 November 1995. Beragama islam, saya tinggal di jln. Sunan kalijaga No. 7AA, Malang. Saat ini saya menempuh S1 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Mengambil jurusan akuntansi

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menjadi orang tua yang cerdas dengan membaca psikologi anak

Membaca Psikologi Anak Yang Sulit Diatur dan Diajarkan

Seringkali kita merasa kelelahan sekaligus jengkel jika anak yang kita ajarkan tidak mau mengerti dan ...