Motivasi / Cerita Inspirasi / Pilih Mana Uang Atau Kerikil ?

Pilih Mana Uang Atau Kerikil ?

Agak aneh ya judulnya, pilih mana uang atau kerikil ? Semua orang kalau langsung diminta jawabannya pasti pilih uang, termasuk saya sih. Iyalah, uang memang bukan segalanya, tetapi hampir segalanya butuh uang kan ? :) Sebenarnya, saya menulis ini karena terinspirasi dari sebuah kisah yang menurut saya memang begitulah manusia pada umumnya. Diberi kemudahan dan kemakmuran cepat sekali menjadi lupa diri, diberi kesusahan dan kesulitan mulai menyalahkan keadaan dan seringkali malah menyalahkan Sang Pencipta. Padahal jika kita mau merenungkan apa yang sudah kita jalani, alami dan terima dalam hidup, semua ini hanya karena Kemurahan Allah semata. Simak yuk cerita inspirasi berikut ini :

mandorAda seorang mandor dan pekerja – pekerjanya yang sedang mengerjakan sebuah proyek bangunan. Suatu kali, sang mandor yang berada di lantai atas ingin memanggil seorang pekerjanya yang berada di lantai bawah karena ada sesuatu yang harus disampaikan. Sang mandor memanggil – manggil setengah berteriak dari lantai atas, tetapi karena bisingnya suara mesin dan alat – alat pekerja, suara mandor tidak terdengar sama sekali. Sang mandor pun terus mencari cara bagaimana agar si pekerja tersebut mau menoleh keatas.

Dilemparnya sebuah uang logam, yang jatuh di samping si pekerja. Pekerja tersebut memungut uang logam dan memasukannya ke dalam saku tanpa menoleh keatas. Sang mandor berpikir lagi, bagaimana agar pekerja tersebut mau menoleh keatas. Kemudian dilemparkannya uang kertas senilai Rp. 100rb yang jatuh tepat di depan si pekerja dengan harapan agar si pekerja mau menoleh keatas sebentar saja. Dengan keheranan, pekerja tersebut mengambil uang kertas Rp. 100rb itu, menoleh ke kiri dan ke kanan, dan langsung memasukannya ke dalam saku sambil meneruskan pekerjaannya lagi. Akhirnya, sang mandor mengambil kerikil dan melemparkannya tepat kepada pekerja tersebut, dan berharap si pekerja mau menoleh keatas. Kerikil itu mengenai kepala si pekerja, karena merasa kesakitan, akhirnya dia pun menoleh keatas dan komunikasi pun terjadi.

Kisah tersebut juga terjadi pada kehidupan kita. Allah selalu ingin berkomunikasi dengan kita, tetapi kita pun selalu sibuk dengan urusan – urusan kita sendiri. Kita diberi rejeki, kemudahan, kelancaran, seringkali kita lupa bersyukur dan “menengadah” kepada Sang Pemberi. Bahkan kita seringkali lupa diri dan membanggakan diri sendiri bahwa semua rejeki yang diterima adalah karena kerja keras kita. Kita lupa, bahwa ada Sang Maha Pengatur yang melancarkan segalanya. Jadi, jangan sampai kita mendapatkan lemparan kerikil yang kita sebut sebagai musibah agar kita mau “menoleh keatas” dan berkomunikasi dengan-Nya.

 gambar dari : www.tempohousing.com

Penulis: Anna yosefina

Foto Profil dari Anna yosefina
Seorang blogger yang suka dunia tulis-menulis. - www.citrawanita.com -

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...