Motivasi / Motivasi Diri / Dibayar Untuk Pintar, Mau?

Dibayar Untuk Pintar, Mau?

Biasanya kalau ingin pintar, memiliki wawasan luas, kaya dengan ilmu Anda harus mengeluarkan uang. Untuk pintar Anda harus sekolah, ikut kursus, ikut seminar atau apapun bentuk media belajar yang menjadi sarana transfer ilmu. Tentunya untuk tujuan tersebut kita perlu mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar biaya sekolah, kursus dan sejenisnya itu. Mungkin ada beberapa yang gratis, tanpa perlu bayar. Tapi, kalau justru Anda yang ingin pintar yang dibayar? Pasti sangat langka.

Tapi, siapa sih yang tidak mau dibayar untuk pintar? Anda pasti juga mau banget kan?

Dibayar untuk Pintar

Dibayar untuk Pintar

Oke, sebenarnya dalam kehidupan ini banyak kesempatan untuk dibayar menjadi pintar. Hanya saja terkadang banyak yang tidak menyadari kesempatan itu. Manusia seringkali menganggap bahwa aktivitas pekerjaan yang mereka lakukan hanya sebuah bentuk jasa atau pekerjaan yang nantinya akan dibayar dalam bentuk gaji. Pada kenyataannya tidak hanya itu. Ada banyak benefit non materi yang mengalir selama proses menjalankan pekerjaan itu. Terkadang benefit non materi tersebut nilainya jauh lebih besar dari pada gaji atau fee atau honor yang kita terima dari pekerjaan tersebut.

Sebut saja salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai penulis lepas. Sebagai seorang penulis mungkin Anda mendapatkan honor dari tulisan Anda yang dimuat di media atau royalti dari buku yang Anda tulis. Apakah hanya sebatas itu? Ternyata tidak. Tahukah Anda? Sebagai seorang penulis sebenarnya Anda sedang dibayar untuk PINTAR.

Bagaimana tidak? Semua proses yang Anda jalani saat menulis adalah proses belajar yang tiada henti. Sebelum menulis Anda harus mengumpulkan dan melahap referensi sebanyak-banyaknya. Anda perlu mencari berbagai informasi terpercaya dari berbagai sumber. Sebelum akhirnya Anda menganalisis dan merumuskan semua data dan informasi yang diperoleh menjadi sebuah tulisan.

Sebagai penulis Anda dituntut untuk banyak membaca, banyak mendengar, banyak merasa dan banyak berpikir. Ini adalah proses awal yang harus dilalui sebelum mengolah ide menjadi adonan tulisan yang siap cetak. Ini adalah proses belajar tiada akhir yang akan terus dijalani oleh seorang penulis. Tidak hanya cukup sampai disitu. Setelah tulisan selesai dibuat, Anda perlu mengendapkannya beberapa saat. Kemudian, sebelum dilempar ke media atau penerbit Anda harus melakukan proses self editing. Tahukah Anda, ini adalah proses belajar mandiri seorang penulis untuk terus memperbaiki kualitas tulisannya. Sebagai penulis Anda dituntut untuk memperbaiki dan menilai tulisan Anda sendiri. Setelah dirasa benar-benar bagus, baru tulisan itu dilemparkan ke media atau penerbit.

Dan, ternyata proses belajar Anda sebagai penulis tidak berhenti sampai di situ. Setelah sampai ke penerbit atau media, tulisan Anda akan direview oleh editor. Jika tulisan Anda ada kekurangan atau kurang pas, editor akan meminta Anda untuk melakukan revisi. Terkadang revisi kecil, namun tidak jarang juga Anda harus merombak total tulisan Anda. Apakah ini sebuah beban? Tentu saja tidak. Sebagai penulis Anda harus melihatnya dari kaca mata positif. Lihatlah bahwa ini adalah proses belajar untuk lebih pintar lagi. Ingat, sesungguhnya Anda sedang dibayar untuk PINTAR.

Setelah semua proses dijalani dengan hati gembira. Sampailah saatnya tulisan Anda menjadi sebuah karya. Sebelum atau sesudahnya Anda akan menerima sejumlah honor, fee atau royalti hasil jerih payah Anda dalam menghasilkan karya tersebut. Bukan, bukan hasil kerja semata. Akan tetapi itu adalah sebuah apresiasi, hadiah untuk kesungguhan Anda dalam menjalani proses belajar yang tiada henti. Sebab Anda sedang belajar untuk PINTAR.

So, dibayar untuk pintar, mau? Mau dong! Oleh karena itu, yuk jalani pekerjaan kita dengan sepenuh hati. Kerahkan seluruh potensi terbaik kita dalam menjalani aktivitas pekerjaan kita. Cintai pekerjaan yang kita lakoni. Sebab, bekerja sesungguhnya adalah proses belajar, proses untuk menjadi pintar. Dengan melakoni pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh, sebenarnya kita sedang dibayar untuk PINTAR!

Penulis: Neti Suriana

Neti Suriana
Author, content writer, blogger

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...