Motivasi / Cerita Inspirasi / Menakar Nilai Diri

Menakar Nilai Diri

Kara-kara buruak, pariok tombuk, bosi-bosi lapuuuoook…..”1

Suara cempreng pengumpul barang-barang bekas biasanya tidak begitu saya pedulikan. Namun, suaranya siang itu tiba-tiba mengingatkanku pada printer bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Dijualpun tidak ada toko komputer yang akan mau membelinya. Sepertinya lebih baik dijual ke pengumpul barang bekas itu. Tanpa pikir panjang saya menyuruh keponakan untuk memanggil pengumpul barang bekas tersebut, sementara saya mengambil printer bekas dan beberapa barang bekas lain yang tidak dipakai lagi.

Saya melihat pengumpul barang bekas tersebut memisahkan antara barang-barang yang terbuat dari besi dan plastik (karah) pada wadah yang berbeda. Kemudian menimbangnya sesuai dengan jenisnya.

“Mengapa dipisah pak?” tanyaku iseng.

“Harganya berbeda bu, klo besi Rp. 2000/kilo dan plastik Rp. 1500/kilo.” Jawabnya sambil menimbang barang bekas tersebut sesuai jenisnya.

Setelah menghitung berat timbangan Si Bapak pengumpul barang bekas itu kemudian menyerahkan uangnya pembayarannya kepadaku,

“Ini bu total semua Rp. 9.000, besinya 3 kilo dan barang plastiknya 2 kilo.” Terangnya panjang lebar.

“Wow… murah sekalee…” teriak keponakanku spontan, “kita kemaren belinya mahal ya nte.” Tambahnya dengan nada serius sambil memanyunkan bibir.

“hahaha…” saya dan Si bapak pemulung tertawa mendengar komentar spontan keponakan kecil itu.

“Ya, namanya juga barang bekas,” jawab saya sambil mengucek-ucek rambutnya. “Nih, katanya mau jajan es krim.”

“Asyiiiik, thank you tante cantik..”

Saya hanya tersenyum melihat polah keponakan kecilku sambil berjalan ke rumah. Namun, pikiranku tiba-tiba terusik dengan ucapan spontan dari si kecil tadi.

“Wow murah sekalee…”

Ya, benar printer yang saya beli dengan harga hampir setengah juta ditambah dengan barang-barang bekas lain yang harganya saat pertama kali membeli juga tidak bisa disebut murah, sekarang hanya dihargai dengan 9000 ribu rupiah oleh Bapak pengumpul barang bekas tersebut. Memang, jika dibiarkan di rumah pun barang tersebut tidak memberikan manfaat selain memenuhi sudut rumah dan dapur. Jadi, ketika dihargai dengan nilai sekecil itu pun tidak ada rasa kecewa di hati saya melepaskan printer dan barang-barang bekas tersebut.

Demikian jugalah kiranya hakikat kehidupan kita di masyarakat. Nilai –harga diri– kita di tengah masyarakat tidak ditentukan oleh seberapa banyak harta yang dimiliki, tidak ditentukan oleh titel yang menghiasi nama, tidak ditentukan oleh tingginya jabatan. Akan tetapi, nilai kita di tengah-tengah masyarakat sangat ditentukan oleh seberapa banyak kita memberikan manfaat pada masyarakat di lingkungan.

Seperti halnya nasib printer saya tadi. Mungkin, jika masih berfungsi dengan baik banyak rental-rental komputer yang mau menerimanya dengan harga yang tidak jauh berbeda dengan harga waktu saya pertama kali membelinya. Dan saya pun masih bisa menawarkan harga yang lebih layak. Namun, ketika printer tersebut tidak bisa lagi difungsikan, akhirnya nasibnya tidak berbeda jauh dengan barang-barang plastik bekas. Ditimbang bersama-sama dan dihargai hanya Rp. 1.500 per kilogram. Bersyukur masih ada Si Bapak pengumpul barang-barang bekas itu yang mau membelinya meski dengan harga murah.

Tiba-tiba saya bertanya  pada diri sendiri, “berapakah nilai saya di tengah-tengah masyarakat? Berapa nilai saya di tengah-tengah keluarga? Adakah saya layak untuk dihargai?”

Sambil mencoba mengingat-ingat, “apa manfaat yang sudah saya berikan pada orang-orang di sekeliling saya? Pada lingkungan saya?”

Ah, mungkin belum seberapa manfaat yang bisa saya berikan pada orang lain. Namun, hari ini saya merasa bersyukur telah diingatkan oleh celotehan spontan keponakan kecil saya. Ya, saya harus memproduksi manfaat sebanyak-banyaknya pada keluarga, tetangga, masyarakat bahkan negara. Agar saya layak dihargai baik oleh manusia maupun Sang Pencipta.

________

1Barang-barang (yang terbuat dari plastik) bekas, panci bocor, besi-besi tua…

Penulis: Neti Suriana

Neti Suriana
Author, content writer, blogger

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...