Motivasi / Motivasi Diri / Proses Pencarian Jati Diri yang Maksimal

Proses Pencarian Jati Diri yang Maksimal

        Sebagai manusia, dalam hidup ini tentunya kita dihadapkan pada situasi di mana kita terpaut dengan yang namanya kata “kebingungan.” Ketika kita baru lahir di dunia ini kita tidaklah tertawa, tersenyum melainkan menangis, nah tanpa kita sadari mungkin di sanalah awal kebingungan diciptakan dalam diri kita, kita tidak tahu apa-apa dan kita hanya bisa menangis.

Proses Pencarian jati diri

        Jalan kehidupan itu sudah dimulai, dengan perawatan dan kasih sayang dari kedua orangtua kita mulai tumbuh dan menjadi anak-anak, yang hanya bisa bermain dan bermain, hingga terciptalah sifat yang membentuk, mulai terdengar kata “Kamu jangan nakal, kamu tidak boleh begitu, dan hal lainnya yang kita ketahui suatu sifat baru yang muncul baik dalam arti sifat yang positif maupun negatif. Sifat positifnya, seperti kita telah melakukan hal yang benar-benar bagus di mata orang tua mulai kita haus akan pujian dan mencari perhatian, biasanya ini di umur 6-14 Tahun, pada waktu di masa-masa seperti ini kita kebanyakan belum mendengar istilah namanya pergaulan yang benar-benar bergaul karena masa ini cuma main dan bermain.

        Kemudian pada waktu kita menginjak umur 15-21 Tahun kita mulai menemukan hal baru, hal yang banyak kita ingini maupun kita takuti, pada umur ini kita sudah mulai berpikir untuk hal yang realistis walaupun masih cukup banyak pengaruh yang ada ditelinga kiri-kanan kita baik dari teman-teman sekolah, teman tetangga, dan teman-teman atau pergaulan. Di masa ini tentu kita tidak masih benar-benar seperti baru sok dewasalah, sok berkuasa dan segalanya ada di jiwa muda, tanpa rasa takut dan selalu ingin benar sendiri. Penulis menyakini kalau di masa ini kita tanpa teguh pendirian kita akan mulai tergerus dengan yang namanya pergaulan negatif, seperti mulai ditantang untuk bertaruh kita tantang balik orang tersebut, kebut-kebutan di jalan raya, mabuk-mabukan, berkelahi itu semua nyatanya dari faktor pergaulan dan hanya manusia yang haus akan pujian dan cari muka manusia yang seperti itu, memang itu dalah adalah kodrat setiap manusia tapi di sayangkan rasa haus akan pencarian perhatian tersebut di salah gunakan.

        Fase-fase pada waktu inilah kita benar-benar haus akan rasa ingin tahu, segalanya pengen di coba mau ini itu dan apapun hingga terpengaruh teman-teman dan terjerumuslah pada yang namanya pergaulan bebas, tidak mau diatur, bolos sekolah, melawan orangtua, guru dan seperti hebat sendiri. Masa ini masa yang paling kelam, kejam, maupun bahagia sekali bagi pribadi yang memang tidak memiliki komitmen dan rasa tahu yang tinggi tadi, dan tak ada yang bisa menghentikannya. sampai pada jenjang kesadaran diri berikutnya.

         Pada Usia 22 Tahun, nah di usai inilah kita mulai dalam arti kebingungan, usai ini adalah usia yang matang, bagi yang sudah tamat Sekolah menegah Atas (SMA) pada umur 18 tahun ada yang memilih kerja, sedangkan bagi yang mampu ada yang memilih melanjutkan kuliah, dan pada yang sudah bekerja mereka pada tamat SMA mereka akan dibingungkan lagi, apakah ingin lanjut kuliah atau tetap bekerja dengan Ijazah SMA nya, kemudian yang kuliah, beruntunglah yang selesai, dan ada juga yang tidak selesai seperti kendala biaya dan laiinya, dan ada yang selesai tetapi bingung kerja dimana?

        Dalam tulisan ini penulis hanya ingin menyampaikan, sesungguhnya manusia itu tiap harinya dalam kebingungan hingga menemukan arti pencarian jati diri. seorang sahabat pernah berkata, “Untuk menemukan jati diri kita harus melakukan pembentukan karakter diri  dari sedini mungkin karena waalaupun sudah umur berkepala empat kita tidak akan menemukan ati diri apabila kita tidak melakukan pembentukan.”

        Cara pembentukannya secara sederhana, kita harus banyak belajar dan membaca baik secara teori maupun praktek di lapangan seperti pergaulan dan cara komunikasi, tingkatkan Ibadah dan tinggalkan hal yang berbau tingkah laku negatif yang menghambat proses kesuksesan, tentunya lebih bertanggung jawab atas apa yang diberikan Tuhan kepada kita, gunakanlah pemikiran yang bijak dalam mengambil setiap kepututusan bukan mengandalakan emosi semata, yakinlah jika keputusan tanpa pemikiran yang matang tentu kita akan menimbulkan rasa penyesalan, jika rasa penyesalan itu terjadi janganlah disesali tapi jadikanlah pengalaman untuk kedepannya agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, tentukan target kehidupan dengan usaha yang maksimal, selalu memotivasi diri dengan usaha yang positif dan maksimal sepertti mengingat kedua orang tua keluarga dan orang-orang yang kita sayangi bagaimana agar mereka bisa membanggakan kita, serta motivasi diri seperti, andaikan gagal berusaha lagi, dan gagal lagi lebih berusaha, jika gagal lagi, berusaha dan berusaha hingga menemukan dan menikmati hasil usaha kita yang lebih dan bisa kita maksimalkan lagi. Tulisan ini tercantum dalam pikiran penulis sendiri karena penulis ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik yang lebih berkarakter positif, mari kita berubah kaearah yang lebih baik!

Palembang, 30 September 2014

Foto Profil dari Muhammad Maulana Kusuma Wardhana

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...