Motivasi / Motivasi Diri / Lebih Baik Bisnis Martabak

Lebih Baik Bisnis Martabak

Seperti biasa, setiap musim ibadah haji banyak cerita yang mengharukan sekaligus mencengangkan. Adalah awak media yang membuka mata kita tentang kegigihan, keuletan, dan kesabaran manusia dalam mewujudkan mimpi atau niat baiknya. Kesabaran bukan hanya saat mengumpulkan uang untuk ditabung tetapi juga kesabaran untuk tak tergoda mengambil tabungannya. Maklum jaman sekarang banyak godaan yang bisa menguras dompet atau saku.

Pedagang bakso bisa menunukan ibadah haji setelah menabung puluhan tahun. Demikian pula tukang tambal ban, pedagang bensin botolan, dan pemulung. Bahkan nenek tua renta berhasil mengumpulkan uang jutaan rupiah sehingga bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu. Kegembiraan dan kebahagian terpancar di wajah mereka saat mempersiapkan aneka perlengkapan yang akan di bawa ke tanah suci.

Kisah mengharukan juga ditunjukkan oleh seorang tukang becak. Dengan penuh kebanggaan dan kepedeannya si bapak mengantar anaknya ke kampus saat putri kesayangannya di wisuda. Sang anak juga tak malu berangkat ke tempat acara wisuda naik becak yang digenjot oleh bapaknya. Tak pelak kegigihan bapak dan anak ini menjadi bahan pemberitaan di mana-mana. Kisah mereka patut dijadikan teladan. Kerja keras tak akan pernah sia-sia.

Lebih baik bisnis martabak daripada bisnis martabat. Jika Anda mau berjualan martabak lalu menyisihkan sedikit keuntungan dari kerja keras ini maka Anda juga bisa menunaikan ibadah haji. Bukan hanya itu, Anda juga bisa menyekolahkan anak setinggi mungkin. Cukup banyak putra-putri orang yang kurang mampu bisa  menjadi orang hebat, bukan. Mereka rela dan tidak malu kuliah sambil bekerja demi meringankan beban orangtua.

Pada sisi yang lain tak sedikit orang kaya, pejabat, orang terpelajar dengan gelar nan panjang hidupnya malah merana karena bisnis martabat. Yup, martabatnya dijual atau digadaikan untuk mendapatkan secuil atau berton-ton martabak.  Dengan berbagai dalih dan alasan martabatnya dijadikan taruhan. Sumpah jabatan dilanggar, perintah dan larangan Tuhan pun diabaikan.

Wanita ayu, setengah ayau, atau yang kurang ayu juga ada yang menjual martabatnya. Dengan rayuan, canda, dan kemanjaannya mereka sudah tak ingat apa-apa kecuali mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya melalui jalan pintas. Mereka mungkin tak ambil pusing terhadap penderitaan para wanita yang menjadi isteri pelanggannya. “Masalah akherat itu urusan belakangan, perut saya dan anak-anak harus segera diisi.” Duh, segitunya. Benarkah penjualan martabat itu hanya untuk memenuhi kebutuhan perut.?

Mereka yang bisnis martabak tak henti-hentinya bersyukur atas rupiah demi rupiah yang bisa dikumpulkan hari itu. Mereka merasa cukup dan mencukupkan diri dengan keuntungan yang diperolehnya. Terhadap pembeli yang naik sepeda atau yang naik mobil tak dibedakan harganya. Tarifnya sama. Martabak biasa yang asin atau manis, dan martabak istimewa dengan dua atau tiga telor harganya sudah baku, standart. Dia tak akan menaikkan harga martabaknya ketika yang membeli datang dengan naik mobil mewah sekalipun.

Berbeda dengan mereka yang menjalankan bisnis martabat. Tiga mobil mewah yang ada di garasi rasanya belum cukup. Rumah megah yang bertebaran di beberapa kota rasanya perlu ditambah. Deposito puluhan milyar dianggap belum cukup untuk menjamin agar kesejahteraan anak cucu tetap bersinar. Martabat pun digadaikan setelah dibalut dengan memanfaatkan jabatan, kekuasaan dan kesempatan yang dimiliki. Aji mumpung benar-benar mewarnai kehidupan mereka. Ibadah dan maksiat berjalan beriringan. Hubungan dengan Tuhan kadang dinomor duakan.

Penjual martabak melayani pembeli dengan wajah tersenyum. Baginya pembeli adalah raja yang layak diperlakukan dengan penuh hormat. Dia membuat martabak sesuai urutan yang lazim. Membuat kulit martabak, menuangkan isi, menggoreng sampai pada tingkat kematangan yang pas, mengiris dan membungkusnya, dan akhirnya menyerahkannya kepada pembeli. Uang dari konsumen diterima dengan wajah berseri seraya megucapkan terima kasih.

Sebaliknya, penjual martabat tak segan-segan mempermainkan konsumennya. Hal yang mudah dibuat sulit. Ada janji dan ancaman yang dibungkus dengan rapi. “Kalau hanya uang segitu sih saya juga punya.” Entah ikhlas atau tidak si konsumen berusaha menguras kocek demi memuluskan usahanya dan mempengaruhi sang penjual martabat. Jika ada senyum di wajah, itupun senyum penuh arti. Kadang juga senyum sinis jika tarif tak sesuai.

Ketika penjual martabak bersiap menunaikan ibadah haji si penjual martabat justeru mendekam di balik terali besi. Keluarga penjual martabak menangis bahagia mengantar yang akan berangkat ke Makkah dan Madinah. Sebaliknya, keluarga si penjual martabat menangis sedih dan tak lagi berani mengangkat wajah. Uang haram pun dicoba untuk dicuci. Panik melanda anak isteri.

So, lebih baik bisnis martabak untuk mendapatkan martabat daripada bisnis martabat untuk mendapatkan martabak.

Penulis: Abdul Cholik

Foto Profil dari Abdul Cholik

3 comments

  1. Martabat , untuk beberapa orang, yang satu ini bisa sangat murah…. Lupa bahwa itu pemberian Tuhan

  2. Foto Profil dari Abdul Cholik

    Betul, dijual murah ya Mas

  3. Martabat ini kembali menjadi kata kunci untuk mengangkat kemakmuran bangsa Indonesia

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...