Motivasi / Motivasi Diri / Produktifitas Tak Memandang Usia

Produktifitas Tak Memandang Usia

Beberapa teman mengatakan bahwa saya termasuk manula yang produktif. Komentar tersebut dilontarkan setiap saya meluncurkan  buku yang baru saja saya terbitkan. “Selamat Pak De atas peluncuran buku barunya. Pak De benar2 produktif, dan semangat Pak De harus ditiru nih… ,” kata Susanti Dewi. Apresiasi dari orang lain tentu saja membuat saya semakin semangat untuk meneruskan hobi menulis.

Di sisi yang lain saya merasa bahwa saya sangat terlambat menerbitkan buku. Betapa tidak, buku pertama saya berjudul Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti terbit pada awal tahun 2013. Saat itu saya hampir menginjak umur 63 tahun. Kemana saja saya selama ini?

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut saya mulai menyadari bahwa saya harus lebih banyak lagi menulis. Beruntung saya sudah pensiun dari dinas militer sehingga saya mempunyai banyak waktu luang. Jika kesempatan ini tidak saya manfaatkan maka saya takut jika label “Laskar Tak Berguna” akan menempel pada diri saya. 

Terbitnya buku Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti menjadi pemicu dan pemacu semangat. Saya semakin terangsang untuk menulis. Dalam tahun 2013 saya berhasil menerbitkan 7 buku, salah satu di antaranya diterbitkan oleh penerbit mayor yaitu PT. Elex Media Komputindo. Karya saya yang bisa menembus penerbit mayor tersebut membuat saya terus melaju. Pada tahun 2014 ini saya juga telah menerbitkan 4 buku solo, satu buku berjudul Dahsyatnya Ibadah Haji diterbitkan oleh major publisher yaitu Quanta Emk, imprint dari PT. Elex Media Komputindo. Penerbit yang sama juga telah menerbitkan buku antologi berjudul Seni Merangkai Keberhasilan, saya termasuk di dalamnya. Kini tiga buah naskah buku saya yang lain juga sedang direview oleh penerbit mayor. Mohon doanya ya, terima kasih.

Produktifitas memang tidak memandang usia. Anak-anak jaman sekarang sudah ada yang mampu menerbitkan buku saat mereka berusia sangat muda.  Sahabat saya, Haya Aliya Zaki, seorang editor buku seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) sering memperlihatkan buku karya anak-anak. Buku berjudul The Tiny Kid misalnya, ditulis oleh Oca (Oryza Sativa Apriyani) yang baru berumur 12 tahun. Hebatnya lagi, buku setebal 104 halaman karya murid Sekolah Dasar ini diterbitkan oleh DAR! Mizan, sebuah penerbit mayor (major publisher) Saya meyakini, jika Oca terus menulis  maka Insya Allah kelak dia akan menjadi penulis besar. 

Tak ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya. Jika sudah bisa menulis dan menerbitkan buku pada usia muda itu lebih bagus. Manakala baru bisa menulis dan menerbitkan buku ketika sudah dewasa atau manula juga tidak menjadi masalah. Kesempatan untuk belajar dan berkarya selalu ada, jalan terbentang di mana-mana.

Saya harus mengacungkan jempol kepada para penulis jaman dulu. Dengan alat tulis seadanya mereka bisa menghasilkan karya yang cemerlang. Hamka misalnya, berhasil menerbitkan buku Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck yang sangat terkenal. Bisa dibayangkan betapa repotnya beliau ketika menulis naskah buku dengan menggunakan mesin tik biasa.  Jika ada kata atau kalimat yang salah ketik beliau harus menghapusnya dengan karet penghapus atau cairan penghapus. Mungkin juga beliau harus merobek beberapa halaman yang dinilai kurang bagus isinya. Itu belum seberapa, satra Jawa Kakawin Bharatayuda karya Empu Sedah dan Empu Panuluh tentu ditulis bukan dengan mesin tik. Pada jaman non komputer saja mereka bisa menghasilkan karya yang begitu hebat.

Kini tersedia berbagai fasilitas untuk menerbitkan buku. Ada komputer, ada orang yang menyediakan jasa mengedit, me layout, membuat cover, dan jasa lainnya. Perusahaan penerbitan buku yang siap menerbitkan karya penulis juga tak terhitung jumlahnya. Yang diperlukan dari kita hanya niat, tekad, dan kerja keras untuk menulis naskah buku. Tentu harus diiringi dengan doa agar apa yang kita kerjakan bermanfaat.

Produktifitas tak memandang usia, jenis kelamin, atau strata sosial. Produktifitas juga tak harus selalu berbentuk penerbitan buku. Tulisan kita juga bisa dikirim ke koran atau majalah. Semakin banyak karya kita yang bisa dinikmati oleh pembaca akan membuat kita bahagia dan semangat. Selain itu, berbagai ilmu yang bermanfaat Insya Allah juga bernilai ibadah.

Dobrak dan singkirkan rasa malu, ragu-ragu, tak pede, takut salah, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Optimislah, “Jika orang lain bisa saya juga pasti bisa,” layak Anda ucapkan dan tanamkan kuat-kuat dalam pikiran Anda.

Penulis: Abdul Cholik

Foto Profil dari Abdul Cholik

8 comments

  1. Foto Profil dari jopik

    wah keren tulisanya pak…memberi inspirasi buat yang muda….

  2. Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan berkarya. Semangat terus ya, Pakde! ^_^

    • Foto Profil dari Abdul Cholik

      Betul Jeng. Seama hayat dikandung badan semangat untuk menambah imu pengetahuan dan berkarya apa saja yang berguna selayaknya terus dilakukan sesuai kemampuan. Terima kasih.

  3. setuju Pak De, inilah saatnya menjadi manusia yg lebih berguna lagi (menyemangati diri). Terima kasih ya Pak De atas kobaran semangatnya.

  4. Produktivitas yang keren pakde …. makin produktif makin awet muda …. :)

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...