Motivasi / Cerita Inspirasi / Jangan Pernah Menyerah Dengan Keadaan

Jangan Pernah Menyerah Dengan Keadaan

Beberapa waktu lalu kita dikagetkan sekaligus dibuat haru oleh berita seorang anak tukang becak yang berhasil meraih IPK 3,96 dan menjadi wisudawati terbaik di Kampus Universitas Negeri Semarang. Berita ini sontak membuat kita terkagum dan tidak menyangka bahwa seorang anak dari keluarga ekonomi menengah ke bawah bisa meraih prestasi sehebat itu. Sebenarnya berita kehebatan orang bawah bukan hanya kali ini saja. Sudah bukan rahasia lagi bahwasannya orang-orang seperti itulah yang justru lebih semangat. Keadaan terpuruk yang mereka alami-lah yang membuat mereka lebih bersemangat dalam menjalani hidup, karena jika tidak, mereka tidak akan mengalami kemajuan. Beda halnya dengan mereka dari kalangan atas yang terbiasa hidup santai bahkan seakan tidak punya impian, karena sejak kecil, kebutuhan mereka telah tercukupi oleh orangtua yang kaya. Bukan berarti anak-anak orang kaya tidak memiliki cita-cita, bukan. Hanya saja sebagian besar anak-anak yang hidupnya berkecukupan menjalani hidup seperti itu. Sekolah di lembaga pendidikan bonafit dengan fasilitas mewah, lulus, kemudian bekerja dengan bantuan orangtua.

Kembali pada wisudawati terbaik tadi. Beberapa hari belakangan berita tentangnya menjadi trending topik di media sosial. Berbagai media, mulai dari Kompas, Detik, hingga Vivanews menampilkan berita tentangnya dengan banyak like dan share dari pengguna Facebook. “Mengharukan”, “Great Job”, “Selalu ada jalan jika kita berusaha”, begitulah sekilas pendapat para pengguna Facebook saat menyebarkan berita tersebut.

Raeni lulusan terbaik Unnes

Di hari wisuda, gadis itu diantar Ayahnya dengan menggunakan becak. Semua mata tertuju pada mereka saat Ayah dan anak itu tiba. Meski mengeluarkan air mata, saya yakin air mata Sang Ayah adalah wujud bangganya ia pada sang anak yang tidak mudah menyerah dengan keadaan sekaligus wujud syukurnya kepada Tuhan yang telah membantu buah hatinya meraih prestasi sehebat itu. Sungguh mengharukan. Sungguh hebat semangat keduanya, baik itu Sang Ayah yang rela mengayuh becak demi mencukupi kehidupan sang buah hati, maupun sang anak yang selalu belajar tekun dan berusaha, tanpa merasa malu dengan keadaan orangtuanya, hingga ia berhasil keluar dari Universitas itu dengan predikat cum laude sekaligus wisudawan terbaik.

Berita ini telah membukakan mata hati kita, bahwasannya di luar sana masih banyak orang-orang yang memiliki keterbatasan materi namun memiliki semangat tiada batas. Seringkali kita menyalahkan keadaan hanya karena kurangnya fasilitas, gadget yang ketinggalan, uang saku yang kurang, kita jadi beralasan untuk malas belajar, padahal bila dibandingkan dengan anak-anak marjinal, kekurangan itu tidak ada apa-apanya.

Jangan pernah jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak semangat, entah itu keterbatasan fisik maupun keterbatasan ekonomi. Fisik dan materi boleh terbatas, tapi jangan sampai semangat juangmu ikut terbatas. Wisudawati di atas baru satu dari sekian banyak anak marjinal yang berhasil. Masa kamu tidak malu dengan mereka? Kamu yang berkecukupan secara fisik dan materi malah mensia-siakannya dengan berfoya-foya dan tidak serius belajar.

Mari manfaatkan apa yang ada padamu sekarang. Jangan sampai kecukupanmu menjadi hilang karena tidak pernah dimanfaatkan dengan baik. Dan kamu, yang mungkin merasakan hal yang sama dengan wisudawati di atas, yang memiliki keterbatasan, jangan menyerah dengan keadaan. God knows all about you. God knows all you need. Seperti salah satu lirik lagu Josh Groban, Don’t Give Up. Jangan pernah menyerah.

Foto Profil dari Rahel Lasmaria Simbolon

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...