Motivasi / Manajemen Diri / Hakikat Puasa Adalah Menahan Diri, Bukan Foya-foya

Hakikat Puasa Adalah Menahan Diri, Bukan Foya-foya

romadhon

sumber gambar www.lintas.me

Setiap tahunnya, kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia menyambut bulan yang suci, yaitu bulan Romadhon namanya. Di bulan ini, Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa, sesuai yang telah di syariatkan di dalam Islam.

Yang namanya puasa itu ialah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkannya, dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Hal yang dapat membatalkan puasa tersebut diantaranya adalah makan dan minum dengan sengaja saat berpuasa, berhubungan suami istri di siang hari, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Salah satu hikmah dari berpuasa sendiri ialah agar kita turut merasakan apa yang telah orang-orang miskin rasakan. Tidak makan, tidak minum, bahkan hingga seharian. Hal ini agar menyadarkan kita untuk mensyukuri kelebihan yang telah Allah berikan kepada kita semua.

Selain itu, agar kita menyadari bahwa orang miskin itu perlu di bantu, serta di hibur, bahwa kita dan mereka adalah orang yang sama-sama merasakan lapar. Kita juga di ajak untuk merenungi bahwa puasa juga mengajarkan kepada kita semua untuk hidup di dalam kesederhanaan, seperti yang telah dicontohkan oleh Rosul Muhammad dan para sahabatnya.

Kesederhanaan yang dicontohkan Nabi saat berpuasa dapat di lihat dari cara berbukanya. Nabi menganjurkan kepada kita untuk berbuka dengan beberapa biji kurma, jika tidak ada kurma, cukup dengan air putih. sekali lagi, dengan beberapa biji kurma dan jika tidak ada, maka penggantinya adalah air putih.

Hampir senada dengan yang terjadi di Indonesia jaman sekarang. Berbukanya dengan beberapa piring kolak, jika tidak ada kolak, dengan es buah disampingnya. Sekali lagi dengan beberapa piring kolak, jika tidak ada, maka dengan es buah atau sirup di sampingnya.

Inilah bedanya puasa pada jaman Nabi dulu dengan jaman kini. Maaf jika saya boleh berpendapat, berbeda jauh sekali. Pada jaman dulu, berbuka dengan apa adanya, Tapi di jaman sekarang, di ada-adakan apa-apanya. Berbeda jauh kan?

Kalau di Indonesia jelas tidak bisa dong disamakan dengan di Arab. Kan susah cari kurmanya… apalagi kalau tinggal di kampung!”

Saudaraku, ini bukan masalah susah atau tidaknya mencari kurma. Kan adas solusi lain selain kurma, yaitu air putih. Semua tau air putih pasti ada diseluruh penjuru bumi, apalagi di Indonesia. Selain itu, harga air putih pasti lebih murah dibandingkan kurma.

“Kurma kan budaya Arab sedangkan kolak budaya Indonesia. Jadi wajar dong kalau kita berbuka dengan kolak”

Itu benar sekali bahwa kurma budaya jazirah Arab, dan kolak budaya Indonesia. Akan tetapi, ini bukan masalah budaya. Namun lebih kepada apa yang biasanya ada, dengan apa yang biasanya tidak ada yang kemudian kita ada-adakan.

Ketahuilah bahwa kurma merupakan hidangan yang biasa dikonsumsi oleh Nabi dan para sahabatnya, meski pun tidak di bulan Romadhon. Itu artinya, makanan itu ya makanan biasa, yang di makan sehari-hari. Jadi, tidak ada spesialnya ketika dijadikan untuk hidangan berbuka.

Beda halnya dengan kolak dan teman-temannya, makanan ini sangat jarang kita konsumsi di hari lain, Tetapi seakan wajib menjadi hidangan di bulan Romadhon. Dan tentunya ini merupakan hidangan yang spesial, karena biasa dijadikan sajian utama saat berbuka.

Apakah salah membuat kolak dan lain-lain untuk berbuka?

baca kelanjutannya..

Penulis: supangkat

Foto Profil dari supangkat
Blogger pemula yang mulai hobi menulis di blog pribadi dan menjadi guest blogger

2 comments

  1. Klo saya mah sederhana banget mas su… caranya>>> cari takjid di masjdi sekitar… wkwkwkw #jangan dicontoh

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...