Motivasi / Cerita Inspirasi / Banyak Bersyukur dan Bekerja Keras Adalah Langkah Cerdas

Banyak Bersyukur dan Bekerja Keras Adalah Langkah Cerdas

Biasanya orang bersyukur itu karena harapannya termaklbulkan, sedangkan seseorang bekerja keras itu dalam rangka mencapai harapan yang diidamkannya. Keduanya tidaklah salah, tetapi bila dipadukan memang menjadi sesuatu yang jauh lebih istimewa. Tetapi satu hal kiranya yang harus diingat terkait harapan, bahwa harapan itu bukanlah sesuatu yang jika gagal didapatkan akan membuat kita susah selamanya, sedangkan jika dimakbulkan akan membuat kita senang selamanya. Tidak jarang kita temukan orang yang karena harapan tingginya tidak tercapai, lalu jatuh dan terpuruk susah bangun lagi malah lantas mengakhiri diri. Hal itu tentu saja keliru. Sebab sememangnya, harapan sebagai suatu pengalaman yang kelak terasakan–entah itu sebagai suatu harapan yang berhasil ataupun gagal–sifatnya tidak akan pernah abadi. Keduanya, keberhasilan dan kegagalan berpeluang sama untuk hadir silih berganti mengiringi tiap harapan setiap insani seperti kita di dunia ini.

Sebagaimana kata Ki Ageng Suryomentaram, yang oleh salah seorang peneliti asal Jepang, yakni Someya Yoshimichi dinobatkan sebagai filsuf, adalah anak sultan ke-55 dari 79 anak Sultan Hamengku Buwono VII, namun memilih untuk tidak bergelut di dunia Kraton, pernah menuliskan suatu konsep tentang harapan yang sebenarnya itu harusnya seperti apa, yakni: “Jika harapanku terkabul tentu aku akan senang selamanya, tetapi bukan rasa senang yang selamanya, karena rasa senang itu dibatasi oleh rasa susah. Sebaliknya, jika harapanku tidak terkabul tentu aku akan susah, tetapi bukan rasa susah selamanya, karena rasa susah itu alasan bagi munculnya rasa senang.” (Falsafah Hidup Bahagia, Grasindo, 2003, hlm. 237) Katanya lagi, jika seseorang telah berpedoman terkait harapan seperti itu, maka ia akan tabah dan berani dalam menghadapi setiap kesulitan, karena hal itu tidak sama dengan tidak terkabulnya harapan. Pasti ada sesuatu yang keliru yang kita lakukan sendiri, dalam teks kitab suci dikatakan bahwa segala akibat itu dikarena oleh tangan kita sendiri.

Untuk itulah memang, agar segala yang terjadi kita harus banyak bersyukur karena selalu ada pelajaran berharga bagi kita semuanya. Dan bilamana ada kesulitan, bukanlah suatu cela mengoreksi diri sendiri. Karena sikap mawas diri, berupa langkah mengukur diri juga sangatlah perlu. Bukan berarti berharap tinggi itu tidak baik, halnya jangan berlebihan, sejauh setinggi yang kita dapat gapai, maka bekerja keraslah untuk mencapainya. Dengan begitu langkah cerdas menggapai kehidupan yang lebih baik bukan lagi ilusi. Terlebih jika upaya kerja keras kita itu tidak hanya untuk diri sendiri, niscaya akan lebih berarti.

Foto Profil dari Taufiq Firdaus A. Atmadja
Pembelajar asal Garut. Lulusan Ilmu Gizi IPB, Bogor. Alumni MAN Insan Cendekia, Serpong. Salah satu pengajar di lembaga bimbingan belajar di Kota Bogor, dan tentor lepas bagi beberapa murid privat. Bidang ampu mata ajar Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi SMP/SMA.

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

menghubungkan akuntansi dengan kehidupan

Akuntansi Kehidupan

Jika dalam akuntansi selalu mengutamakan keseimbangan antara asset dan kewajiban, berbeda dengan akuntansi kehidupan, anggap ...